Konsultan Program Smart Detox Synergy

Program Smart Detox adalah program diet dengan pasokan nutrisi yang cukup untuk mendetoksifikasi tubuh secara aman dan alami

Rahasia Manfaat Dan Khasiat Garlic Atau Bawang Putih

| 0 comments

khasiat dan manfaat garlic atau bawang putih

Selama ini kebanyakan dari kita hanya mengenal garlic atau bawang putih sebagai bahan yang bisa menambah aroma dan menyedapkan masakan. Disamping itu dalam perjalanan sejarah dan sampai saat ini, garlic juga banyak digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit, khasiat garlic sebagai antibiotik telah dikenal sejak lama. Tapi penelitian mutakhirlah yang mengungkapkan ‘rahasia’ khasiat garlic tersebut, ditemukan senyawa-senyawa aktif yang masing-masing ternyata berkhasiat luar biasa untuk kesehatan manusia.
Anggota dari keluarga bawang-bawangan ini (termasuk bawang merah dan bawang daun) sangat kaya dengan kandungan senyawa-senyawa sulfur seperti thiosulfinates (yang paling dikenal adalah allicin), sulfoxides (yang paling dikenal adalah alliin), dan dithiins (yang paling banyak diteliti adalah ajoene). Senyawa-senyawa tersebut adalah yang menimbulkan bau menyengat khas garlic, disamping merupakan sumber dari khasiat garlic.
Senyawa sulfur dalam garlic ini mungkin merupakan nutrisi yang paling unik. Secara harfiah ada lusinan molekul sulfur yang sudah dipelajari dengan baik, dan hampir semuanya telah terbukti berfungsi sebagai antioksidan. Selain itu, banyak diantaranya memberi manfaat sebagai anti-inflamasi.

Penelitian yang lebih mutakhir menemukan senyawa-senyawa sulfur lainnya yang turut menyumbangkan khasiat luar biasa pada garlic. Diantaranya adalah 1,2-vinyldithiin (1,2-DT), and thiacremonone. Gas hidrogen sulfida (H2S) yang dihasilkan dari senyawa sulfida garlic juga banyak menarik perhatian peneliti. Saat diproduksi dan dilepaskan dari sel darah merah, gas H2S ini akan membantu memperlebar pembuluh darah sehingga dapat menjaga tekanan darah tetap normal.
Sulfur adalah salah satu mineral yang sangat dibutuhkan tubuh, tapi selain senyawa-senyawa sulfur, garlic juga merupakan sumber yang baik untuk mangan, vitamin B1, vitamin B6, vitamin C, tembaga, fosfor, kalsium, dan selenium.
Selain sebagai sumber selenium yang baik, garlic juga merupakan sumber yang dapat diandalkan. Oleh ilmuwan, garlic disebut tanaman ‘seleniferous’ karena tetap dapat mengambil selenium dari tanah tempat tumbuhnya walaupun konsentrasinya sangat rendah.

Manfaat garlic untuk kesehatan sistem kardiovaskuler

Kebanyakan riset pengaruh garlic terhadap kesehatan sistem kardiovaskuler dilakukan dengan menggunakan bubuk garlic, minyak garlic, atau ekstrak garlic daripada menggunakan garlic segar dalam makanan sehari-hari. Walau dengan keterbatasan itu, studi pengaruh garlic dalam bidang makanan menunjukkan bahwa anggota keluarga bawang-bawangan (allium) ini memiliki sifat melindungi jantung (cardioprotective). Garlic secara nyata dapat menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol total walaupun tingkat penurunannya sedang-sedang saja (5 15%)
Tapi efek menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah bukanlah manfaat yang paling menakjubkan dari garlic dalam melindungi jantung. Manfaat utamanya terletak pada kemampuan garlic untuk melindungi sel darah dan pembuluh darah terhadap peradangan (inflamasi) dan stress oksidatif. Kerusakan pada pembuluh darah oleh molekul oksigen yang sangat reaktif adalah faktor utama yang meningkatkan resiko terkena penyakit kardiovaskuler, termasuk serangan jantung dan atherosklerosis. Kerusakan oksidatif menyebabkan peradangan yang tidak dikehendaki, dan peradangan dan stress oksidatif ini menempatkan pembuluh darah dalam resiko terbentuknya plaque dan penyumbatan. Senyawa-senyawa sulfur dalam garlic inilah yang melindungi kita dari bahaya stress oksidatif dan inflamasi yang tidak dikehendaki.

Berikut adalah senyawa-senyawa sulfur yang dapat mengurangi resiko terkena stress oksidatif:
alliin, allicin, allixin, allyl polysulfides (APS, polysulfides adalah istilah umum yang merujuk pada beberapa senyawa) ,diallyl sulfide (DAS), diallyl disulfude (DADS), diallyl trisulfide (DATS), N-acetylcysteine (NAC), N-acetyl-S-allylcysteine (NASC), S-allylcysteine (SAC), S-allylmercaptocysteine (SAMC), S-ethylcysteine (SEC), S-methylcysteine (SMC), S-propylcysteine (SPC), 1,2-vinyldithiin (1,2-DT) ,thiacremonone

Senyawa 1,2-vinyldithiin (1,2-DT) and thiacremonone menarik perhatian periset akhir-akhir ini dalam segi kemampuan anti-inflamasinya. Kedua senyawa itu menghambat aktivitas molekul-molekul pembawa inflamasi (inflammatory messenger molecules). Pada thiacremonone yang dihambat adalah faktor transkripsi inflamasi yang disebut NFkappaB. Mekanisme anti-inflamasi pada 1,2-DT belum begitu jelas, walaupun produksi molekul-molekul pembawa inflamasi seperti interleukin 6 (IL-6) and interleukin 8 (IL-8) oleh makrofag pada jaringan adiposa putih berhasil direduksi oleh 1,2-DT.
Kombinasi dari senyawa-senyawa anti-inflamasi dan anti-stress oksidatif pada garlic menjadikannya suatu bahan makanan yang unik untuk melindungi sistem kardiovaskuler, khususnya terhadap penyakit degeneratif kronis pada kardiovaskuler seperti artherosklerosis.

Sebagai tambahan terhadap kemampuan garlic untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah, umbi ini juga mampu mencegah terbentuknya bekuan darah (clot) dalam pembuluh darah. Senyawa yang bertanggung jawab terhadap kemampuan perlindungan terhadap sistem kardiovaskuler dengan cara ini adalah senyawa disulfide yang dinamakan ajoene. Ajoene ini telah sering dibuktikan memiliki sifat anti-clogging, dengan cara mencegah sel tertentu dalam darah (platelet) menjadi terlalu lengket, pengendalian kelengketan ini memperkecil kemungkinan platelet untuk menggumpal dan membentuk bekuan (clot).

Kemampuan lain garlic adalah menurunkan tekanan darah. Periset telah mengetahui bahwa allicin yang dihasilkan oleh alliin dalam garlic dapat memblok aktivitas angiotensin II. Angiotensin II ini semacam peptida yang membantu pembuluh darah untuk berkontraksi, saat pembuluh darah berkontraksi maka darah akan dipaksa melewati penampang yang menyempit, sehingga tekanannya meningkat. Dengan memblok produksi angiotensin II, maka allicin dari garlic ini dapat mencegah kontraksi yang tidak dikehendaki pada pembuluh darah sehingga mencegah kenaikan tekanan darah yang tidak dikehendaki.

Tapi pada riset mutakhir, para peneliti menemukan bahwa garlic dapat membantu menjaga tekanan darah dengan cara yang sama sekali berbeda. Garlic banyak mengandung senyawa belerang yang disebut polysulfides. Jika senyawa ini berada dalam sel darah merah, maka selanjutnya sel darah merah ini akan mengkonversinya menjadi gas hidrogen sulfida (H2S). Hidrogen sulfida membantu mengendalikan tekanan darah dengan cara memicu dilatasi pembuluh darah, saat pembuluh darah berdilatasi maka darah akan melewati penampang yang lebih luas, sehingga tekanan turun). H2S ini disebut ‘gasotransmitter’ yang dikategorikan seperti nitrik oksida (NO) sebagai ‘messaging molecules’ yang membantu ekspansi dan relax dinding pembuluh darah. Tapi sayangnya, sel-sel darah merah tidak bisa memanfaatkan ekstrak garlic seperti halnya pada polysulfides yang berasal dari garlic segar dalam makanan.

Bermacam khasiat garlic terhadap sistem kardiovaskuler tidak hanya disumbangkan oleh senyawa-senyawa sulfurnya, garlic juga mengandung vitamin C, vitamin B6, selenium, dan mangan. Garlic sangat kaya dengan kandungan vitamin C yang merupakan antioksidan utama dalam tubuh di lingkungan berair (water-soluble area) seperti dalam aliran darah. Vitamin C ini melindungi kolesterol LDL terhadap oksidasi, kita tahu bahwa kolesterol LDL yang teroksidasi inilah yang menginisiasi perusakan pada dinding pembuluh darah. Mengurangi tingkat oksidasi oleh radikal bebas dalam aliran darah akan sangat bermanfaat untuk mencegah penyakit kardiovaskuler.
Vitamin B6 membantu mencegah penyakit jantung dengan cara mengurangi kadar homosistein dalam darah. Sebagai produk antara dalam proses biokimia di dalam sel yang disebut methylation cycle, homosistein dapat membahayakan dinding pembuluh darah.
Selenium juga merupakan bagian penting dari sistem antioksidan endogen dalam tubuh manusia. Sebagai kofaktor dari glutation peroksidase yang merupakan salah satu antioksidan yang diproduksi tubuh, selenium juga bekerja bersama vitamin E dalam sejumlah sistem antioksidan yang penting.
Garlic tidak hanya kaya kandungan selenium, tapi juga mengandung trace elemen yaitu mangan, yang juga berfungsi sebagai kofaktor dalam berbagai enzim antioksidan dalam tubuh seperti superoksida dismutase (SOD). Ada penelitian yang menemukan bahwa defisiensi mangan pada orang dewasa akan mengakibatkan kadar HDL dalam darah turun, HDL ini merupakan kolesterol ‘baik’.
Pembaca yang tertarik dengan mekanisme kerja antioksidan dapat membacanya di artikel-artikel saya sebelumnya.

Manfaat garlic sebagai anti-inflamasi untuk seluruh tubuh

Bukan hanya jantung yang mendapatkan manfaat dari karakteristik anti-inflamasi garlic. Ada bukti-bukti awal (kebanyakan dari penelitian terhadap hewan, dan kebanyakan menggunakan ekstrak garlic dibanding menggunakan garlic segar dari makanan) yang menunjukkan bahwa sistem otot dan rangka (musculoskeletal system) dan sistem pernapasan juga mendapat manfaat dari khasiat anti-inflamasi garlic. Kedua senyawa diallyl sulfide (DAS) and thiacremonone dalam garlic memiliki sifat anti-arthritis. Dalam kasus peradangan saluran napas akibat alergi, ekstrak garlic terbukti dapat mengurangi kondisi inflamasi.

Walaupun masih dalam tahap awal penelitian, penelitian menunjukkan bahwa konsumsi garlic dapat membantu mengatur pembentukan sel-sel lemak oleh tubuh. Baru-baru ini peneliti menemukan bahwa sel fibroblastik (disebut preadipocytes) hanya bisa berkembang menjadi sel-sel lemak penuh (disebut adipocytes) jika berada dalam keadaan metabolik tertentu yang melibatkan aktivitas sistem inflamasi. 1,2-DT (1,2-vinyldithiin) adalah senyawa sulfur dalam garlic yang memiliki sifat anti-inflamasi, sehingga 1,2-DT bisa menghambat proses konversi ini. Karena masalah obesitas makin dipandang oleh peneliti sebagai akibat inflamasi tingkat rendah yang kronis, maka pemanfaatan khasiat 1,2-DT sebagai zat anti-inflamasi akan diaplikasikan ke penanganan obesitas secara klinis.

Manfaat garlic sebagai anti bakteri dan anti virus

Sejak jaman dahulu, manfaat garlic sebagai anti bakteri dan anti virus adalah manfaat garlic yang paling dikenal. Keluarga bawang-bawangan ini telah dipelajari tidak hanya khasiatnya dalam mengendalikan infeksi oleh bakteri dan virus, tapi juga terhadap infeksi yang disebabkan oleh mikroba lainnya seperti ragi/jamur dan cacing. Salah satu senyawa disulfide dalam garlic yang dinamakan ajoene dapat digunakan untuk mencegah infeksi yang disebabkan oleh ragi Candida albicans.
Riset baru-baru ini juga memperlihatkan kemampuan garlic segar yang dilumatkan untuk mencegah infeksi dari bakteri Pseudomonas aeruginosa terhadap pasien luka bakar. Yang menarik juga adalah kemampuan garlic untuk membantu perawatan infeksi bakteri yang sulit disembuhkan karena adanya bakteri yang sudah tahan terhadap antibiotik yang diresepkan dokter. Kebanyakan riset tentang khasiat garlic sebagai antibiotik ini menggunakan ekstrak garlic atau bubuk garlic ketimbang garlic segar dalam makanan.

Pertumbuhan yang tidak terkendali dari bakteri Helicobacter pylori dalam lambung adalah faktor resiko kunci terhadap timbulnya penyakit tukak lambung (stomach ulcer). Para peneliti tertarik untuk mengeksplorasi sifat antibakteri garlic terhadap penyakit ini. Hasil penelitian di bidang ini menunjukkan hasil yang berbeda-beda dan tidak dapat disimpulkan. Walaupun garlic tidak bisa mengatasi infeksi jenis ini secara sendirian, seharusnya ada manfaat kesehatan dari garlic yang membantu meregulasi respons tubuh terhadap infeksi ini.

Manfaat garlic untuk mencegah kanker

Walaupun bukti penelitiannya tidak sekuat bukti penelitian terhadap ‘herbal-herbal eksotik’, riset pada keluarga bawang-bawangan (termasuk garlic) menunjukkan bahwa bahan ini ternyata memiliki sifat anti kanker yang baik. Menariknya, banyak mengkonsumsi garlic ternyata dapat memperkecil resiko terkena penyakit kanker (kecuali kanker prostat dan kanker payudara). Tetapi mengkonsumsi garlic dalam jumlah sedang (kira-kira beberapa kali dalam seminggu) ditemukan berulangkali hanya mengurangi resiko terkena kanker colorectal (usus besar & anus) dan kanker ginjal. Perbedaan antara mengkonsumsi ‘banyak’ dan mengkonsumsi ‘sedang’ boleh jadi merupakan perbedaan yang nyata yang menyarankan bahwa mengkonsumsi banyak garlic akan lebih memaksimalkan manfaat yang bisa diambil dari sifat garlic yang berhubungan dengan kemampuannya mencegah penyakit ini. Atau mungkin ada perbedaan yang lebih berhubungan dengan detail riset menyangkut pilihan-pilihan yang diberikan kepada para partisipan riset saat melaporkan makanan yang dikonsumsinya. Tetap, garlic memiliki rekam jejak yang konsisten terhadap reputasinya sebagai bahan yang memiliki sifat anti-kanker, dan ada alasan yang cukup kuat untuk memasukkan garlic sebagai makanan anti-kanker.

Allyl sulfides yang ditemukan dalam garlic memainkan peranan penting sebagai zat yang berkhasiat anti-kanker. Senyawa ini dapat mengaktifkan semacam molekul yang dinamakan nuclear erythroid factor (Nrf2) di dalam ruang sel. Molekul Nrf2 kemudian bergerak dari ruang sel kedalam inti sel, dimana ia memicu berbagai aktivitas metabolisme. Dalam keadaan tertentu rentetan kejadian ini dapat mempersiapkan sebuah sel untuk menghadapi ‘peperangan’ sebagai respons survival yang kuat, dan biasanya, ini adalah respons yang dibutuhkan di bawah kondisi stress oksidatif. Dalam keadaan lain, rentetan kejadian yang sama dapat mempersiapkan sel melakukan program ‘bunuh diri’ (apoptosis).
Ketika sel ‘merasakan’ bahwa ia telah menjadi ‘terlalu dipaksakan’ untuk terus berfungsi secara sehat dengan sel lain, ia akan berhenti melanjutkan siklus hidupnya sendiri dan pada prinsipnya ia mulai membongkar diri sendiri dan mendaur-ulang bagian-bagiannya. Adalah sangat kritikal bagi sebuah sel untuk menentukan apakah akan terus melanjutkan hidupnya atau akan mematikan dirinya sendiri, karena sel yang melanjutkan hidupnya tapi tanpa kemampuan untuk berfungsi dengan baik, atau tanpa kemampuan untuk berkomunikasi dengan sel-sel lainnya akan berada dalam resiko menjadi bersifat kanker. Kemampuan allyl sulfida pada garlic untuk mengaktifkan Nrf2 menunjukkan bahwa garlic dapat membantu memodifikasi semua respons kritis sel dan mencegah potensi terbentuknya sel kanker.

Salah satu bidang riset yang menarik pada garlic dan pencegahan kanker adalah tentang daging yang dimasak pada temperatur tinggi. Heterocyclic amines (HCAs) adalah substansi yang berhubungan dengan kanker yang dapat terbentuk saat daging yang dimasak terkena kontak dengan alat pemasak yang sangat panas (400°F/204°C atau lebih).
Ada sejenis HCA yang disebut PhIP (2-amino-1-methyl-6-phenylimidazopyridine). PhIP diperkirakan sebagai penyebab semakin meningkatnya kejadian kanker payudara pada wanita yang banyak mengkonsumsi daging, karena PhIP sangat mudah ditransformasikan menjadi senyawa yang merusak DNA.
Diallyl sulfide (DAS), salah satu senyawa sulfur dalam garlic, menunjukkan kemampuan untuk menghambat transformasi PhIP karsinogen. DAS memblok transformasi dengan cara menurunkan produksi enzim hati (Phase I enzymes CYP1A1, CYP1A2 and CYP1B1) yang mentransformasikan PhIP menjadi senyawa teraktifkan yang dapat membahayakan DNA. Tentu saja, cara terbaik untuk mencegah pembentukan PhIP adalah menghindarkan kontak daging yang dimasak dengan peralatan memasak hingga temperatur 400°F/204°C. Tapi bidang riset ini tetap mendukung pandangan bahwa garlic adalah keluarga bawang-bawangan yang memiliki karakteriistik sebagai pencegah kanker.

Garlic dan proses metabolisme zat besi

Riset mutakhir menunjukkan bahwa garlic dapat memperbaiki metabolisme zat besi. Ketika zat besi disimpan dalam sel, salah satu jalan keluar untuk pindah keluar dari sel dan kembali ke dalam sirkulasi melibatkan protein yang disebut ferroportin. Ferroportin adalah protein yang melintasi membran sel, dan menyediakan sebuah ‘jembatan’ bagi zat besi untuk masuk dan keluar dari sel. Garlic dapat membantu tubuh meningkatkan produksi ferroportin, dengan demikian , membantu zat besi bersirkulasi seperti yang diperlukan.

Suplemen Garlic

Walaupun garlic banyak manfaatnya dan sangat berkhasiat untuk kesehatan tubuh kita, tapi mengkonsumsinya dalam keadaan segar menimbulkan masalah bau mulut dan napas yang kurang sedap. Synergy Garlic dibuat dengan lapisan khusus untuk membantu mengontrol bau yang tidak sedap dari garlic tanpa mengurangi kemurnian dan khasiatnya. Lapisan pembungkus ini berasal dari klorofil yang efektif mengontrol bau tidak sedap dalam waktu yang lama. Tablet garlic tidak akan hancur selama proses absorpsi sampai mencapai usus halus, hal ini membuat nutrisi yang lengkap dapat diperoleh tanpa harus merasakan aroma dan bau yang tidak sedap.
Synergy garlic juga memiliki kualitas dan keunggulan dibanding produk sejenis di pasaran.
Synergy Garlic mengandung tambahan bahan lain seperti: selulosa (serat tanaman), bunga brokoli (Brassica oleracea), asam stearat, kunyit (Curcuma longa), umbi bit merah (Beta vulgaris), silikon dioksida, daun rosemary (Rosmarinus officinalis), umbi wortel (Daucus carota), buah tomat (Solanum lycopersicum), daun lobak (Brassica rapa), daun kubis (Brassica oleracea), bioflavonoid dari buah jeruk dan anggur, dan hesperidin.
Disamping memiliki aktivitas antioksidan, racikan ini dapat membantu sistem pencernaan dan pembuangan, memastikan efisiensi penyerapan garlic.

Leave a Reply

Required fields are marked *.