Konsultan Program Smart Detox Synergy

Program Smart Detox adalah program diet dengan pasokan nutrisi yang cukup untuk mendetoksifikasi tubuh secara aman dan alami

Bahan Makanan Yang Mempengaruhi Resiko Timbulnya Penyakit Kardiovaskuler Part1

| 0 comments

Asam lemak esensial

Setiap bahan pangan memiliki karakteristik tersendiri dalam hal jenis maupun jumlah zat gizi dan zat non-gizi yang dikandungnya. Yang tergolong ke dalam zat gizi adalah: karbohidrat (pati dan gula), protein, lemak, vitamin, dan mineral. Sedangkan yang tergolong sebagai zat non-gizi adalah: serat makanan (termasuk oligosakarida), sterol tanaman (fitosterol), pigmen tanaman (klorofil, karotenoid, dan flavonoid), serta senyawa-senyawa lain dalam jumlah sedikit. Ditinjau dari masalah aterosklerosis, makanan-makanan tersebut ada yang dapat menghambat terjadinya aterosklerosis dan penyakit jantung koroner, tapi ada juga yang justru meningkatkan resiko timbulnya aterosklerosis dan penyakit jantung koroner.
Berikut akan dibahas mengenai berbagai jenis bahan pangan.

Gula

Menurut beberapa penelitian, konsumsi karbohidrat terutama gula (sukrosa dan fruktosa) dapat meningkatkan kadar triglisedida darah serta menurunkan kadar HDL, sehingga meningkatkan resiko timbulnya penyakit jantung koroner.
Tingginya konsumsi gula juga akan menimbulkan kelebihan berat badan dan kegemukan (obesitas), terutama kegemukan perut (abdominal obesity) yang merupakan faktor resiko independen untuk berkembangnya penyakit jantung koroner.
Kegemukan perut merupakan suatu gabungan abnormalitas metabolik yang sering disebut sebagai sindroma metabolik (sindroma X); termasuk resistensi insulin, terganggunya toleransi glukosa, tingginya kadar trigliserida dalam darah, kadar HDL rendah, kadar LDL tinggi.
Meningkatnya kadar triasilgliserol puasa 12 jam yang berhubungan dengan konsumsi sukrosa yang tinggi akan menyebabkan terjadinya akumulasi sisa lipoprotein yang kaya akan triasilgliserol yang bersifat aterogenik
Sukrosa dapat meningkatkan sintesis triasilgliserol hepatik dan juga menurunkan katabolisme lipoprotein kaya aka triasilgliserol.
Kecepatan sintesis triasilgliserol hepatik akan meningkat jika pasokan asam-asam lemak ke hati banyak, dan terdapatnya persediaan asam lemak akan mengurangi degradasi apolipoprotein N, sehingga dapat meningkatkan produksi VLDL; yang pada akhirnya akan meningkatkan kadar LDL.
Fruktosa juga adalah gula yang hipertrigliseridemik (dapat dengan cepat meningkatkan kadar trigliserida dalam darah), karakteristik ini menyebabkan gula meja (sukrosa yang terdiri dari glukosa dan fruktosa) juga bersifat hipertrigliseridemia.
Untuk menjaga kesehatan sistem kardiovaskuler, disarankan untuk mengurangi konsumsi gula dan makanan/minuman yang manis-manis.

Asam lemak jenuh

Asam lemak dapat dibedakan menjadi 3 macam:

  • Asam lemak jenuh (saturated fatty acids, SFA), yaitu asam lemak yang hanya memiliki ikatan tunggal antar atom karbon (C), contohnya asam stearat (C18:0)
  • Asam lemak tidak jenuh tunggal(mono-unsaturated fatty acids, MUFA), yaitu asam lemak yang memiliki hanya 1 ikatan rangkap antar atom karbon (C), contohnya asam oleat (C18:1)
  • Asam lemak tidak jenuh ganda (poly-unsaturated fatty acids, PUFA), yaitu asam lemak yang memiliki lebih dari 1 ikatan rangkap antar atom karbon (C), contohnya asam linoleat (C18:2), asam α-linoleat (C18:3). Yang tergolong asam lemak omega-3 adalah asam α-linoleat (C18:3;9,12,15) dan turunannya yaitu asam eikosapentaenoat (C22:5;5,8,11,14,17) dan asam dokosaheksaenoat (C22:6;4,7,10,13,16,19)

Panjang rantai karbon asam lemak

Berdasarkan panjang rantai karbon, asam lemak digolongkan menjadi:

  • Asam lemak berantai pendek (short chain fatty acids, SCFA), yaitu asetat (C2), propionat (C3), butirat (C4)
  • Asam lemak berantai sedang (medium chain fatty acids, MCFA), yaitu C6,C8,C10, dan C12
  • Asam lemak berantai panjang (long chain fatty acids, LCFA), yaitu asam lemak yang mempunyai 12 hingga 26 atom karbon

Asam lemak rantai panjang

Lemak/minyak yang mengandung asam lemak jenuh pada umumnya bersifat padat atau semi padat pada suhu ruang.
Konsumsi asam lemak jenuh berantai panjang cenderung meningkatkan kadar trigliserida dan kolesterol dalam darah, sehingga dapat meningkatkan resiko timbulnya penyakit jantung koroner dan stroke.
Banyak diantara bahan pangan yang mengandung asam lemak jenuh dalam jumlah tinggi juga mengandung kolesterol, contohnya adalah bahan pangan yang berasal dari hewan misalnya: daging, jeroan, telur, susu.
Para dokter ahli penyakit jantung di Amerika Serikat merekomendasikan konsumsi minyak atau lemak dibatasi maksimum 30% dari total kalori yang dikonsumsi perhari. Dari jumlah 30% itu, disarankan 10% berupa lemak atau minyak yang mengandung asam lemak jenuh, 10% lagi berupa lemak atau minyak yang mengandung asam lemak tidak jenuh tunggal, 10% sisanya berupa lemak atau minyak yang mengandung asam lemak tidak jenuh ganda.

Beberapa kesimpulan hasil-hasil penelitian menunjukkan hubungan antara konsumsi asam lemak jenuh berantai panjang dengan penyakit kardiovaskuler

  • Pengurangan konsumsi lemak jenuh dapat menurunkan resiko timbulnya penyakit kardiovaskuler (tapi tidak terjadi penurunan dalam hal kematian)
  • Konsumsi asam lemak tidak jenuh jamak untuk menggantikan asam lemak jenuh menurunkan resiko timbulnya penyakit jantung koroner
  • Penyakit jantung koroner berhubungan baik dengan jumlah maupun kualitas minyak/lemak yang dikonsumsi. Penggantian lemak jenuh dengan lemak tidak jenuh ganda (tidak dengan asam lemak tidak jenuh tunggal atau karbohidrat) dapat menurunkan resiko timbulnya penyakit jantung koroner.
  • Terdapat sedikit penurunan tetapi potensial dalam resiko timbulnya penyakit jantung koroner melalui pengurangan atau modifikasi konsumsi lemak, terutama jika dilaksanakan dalam jangka waktu panjang.
  • Penggantian lemak jenuh dengan lemak tidak jenuh jamak menurunkan resiko timbulnya penyakit jantung koroner sebesar 45%.
  • Pengurangan konsumsi lemak jenuh dan kolesterol, dan menggantinya sebagian dengan asam lemak tidak jenuh ganda dapat menurunkan resiko timbulnya penyakit jantung sebesar 13% dan resiko kematian akibat penyakit jantung koroner sebesar 6%.

Asam lemak rantai sedang

Asam lemak jenuh pada minyak kelapa dan minyak inti sawit terdiri atas asam lemak jenuh berantai sedang, yang tidak memberikan pengaruh buruk seperti halnya lemak jenuh yang berasal dari hewan (berantai panjang).
Menurut hasil penelitian mengenai hubungan antara konsumsi minyak kelapa dengan penyakit jantung, secara tegas disimpulkan bahwa minyak kelapa tidak memberikan pengaruh negatif. Para peneliti menyimpulkan bahwa minyak kelapa adalah ‘lemak netral’ dan tidak bersifat aterogenik (menyebabkan timbulnya aterosklerosis), juga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar kolesterol total, HDL, maupun LDL dalam serum. Juga tidak merubah rasio kolesterol total terhadap HDL maupun rasio LDL terhadap HDL.
Penelitian yang menunjukkan efek hiperkolesterolemik minyak kelapa pada umumnya hanya memperlihatkan bahwa minyak kelapa tidak seefektif lemak tidak jenuh dalam menurunkan kadar kolesterol dalam serum. Hal ini disebabkan karena minyak kelapa tidak seefektif minyak tidak jenuh dalam ‘menarik’ kolesterol dari dalam darah ke jaringan.

Asam lemak tidak jenuh

Asam oleat

Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa asam oleat sama efektifnya seperti asam linoleat dalam menurunkan kadar kolesterol plasma. Asam oleat dan asam linoleat menyebabkan penurunan kadar apolipoprotein B (apo B) dengan derajat yang sama.
Pola apolipoprotein B dalam plasma dianggap sebagai predictor yang lebih akurat untuk resiko penyakit jantung koroner dibandingkan dengan kolesterol lipoprotein (misalnya kadar LDL)

Asam linoleat

Asam linoleat merupakan asam lemak tidak jenuh yang paling banyak dikonsumsi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi asam linoleat berkorelasi dengan penurunan resiko timbulnya penyakit jantung koroner, atau kematian akibat penyakit jantung.
Para dokter ahli penyakit jantung di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa konsumsi kalori sebanyak 5 – 10% dari total kalori perhari yang diperoleh dari asam linoleat berkorelasi dengan penurunan resiko penyakit jantung koroner.

Asam α-linoleat

Dalam suatu penelitian diperoleh data bahwa setiap peningkatan konsumsi asam α-linoleat sebanyak 1 gram/orang/hari mengakibatkan penurunan resiko timbulnya penyakit jantung koroner sebesar 16%.
Penelitian lain menunjukkan bahwa pada populasi yang mengkonsumsi asam α-linoleat dalam jumlah tinggi (sekitar 1,4 gram/hari) mempunyai resiko kematian akibat penyakit jantung koroner 45% lebih rendah dibandingkan dengan populasi yang mengkonsumsi asam α-linoleat dalam jumlah rendah (sekitar 0,7 gram/hari).
Beberapa penelitian lain menemukan bahwa peningkatan konsumsi asam α-linoleat menurunkan konsentrasi C-reactive protein (CRP) dalam serum. CRP adalah suatu marker inflamasi yang sangat berhubungan dengan resiko penyakit jantung koroner.

EPA dan DHA

Minyak ikan diperoleh dari, antara lain: ikan herring, menhaden, pilchard, sardine, dan paus. Minyak ini dicirikan dengan dengan tingginya kandungan asam-asam lemak tidak jenuh berantai panjang yaitu EPA (eikosapentaenoat) dan DHA (dokosaheksaenoat).
Minyak ikan belum dikategorikan sebagai minyak pangan, tapi banyak digunakan dalam suplemen sebagai sumber vitamin A atau sumber asam lemak omega-3 (EPA dan DHA)
Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi EPA dan DHA dapat menurunkan resiko timbulnya penyakit jantung koroner dengan cara:

  • Mencegah timbulnya aritmia denyut jantung yang dapat mengakibatkan kematian jantung secara mendadak (sudden cardiac death)
  • Menurunkan resiko timbulnya trombosis (gumpalan darah, clot) yang dapat mengakibatkan terjadinya serangan jantung (myocardial infarction) atau stroke
  • Menurunkan kadar trigliserida dalam serum darah
  • Memperlambat pertumbuhan plak aterosklerosis
  • Memperbaiki fungsi endotelium saluran darah
  • Sedikit menurunkan tekanan darah
  • Mencegah terjadinya radang (inflamasi)

Asam lemak trans

Asam lemak trans adalah asam lemak tak jenuh (asam linoleat) dengan konfigurasi trans (normalnya adalah konfigurasi cis).
Secara alami asam lemak trans terdapat (dalam jumlah sedikit) dalam daging dan susu serta produk olahannya, baik yang berasal dari sapi, kambing dan hewan ruminansia lainnya; asam lemak trans tersebut diproduksi oleh bakteri dalam perut ruminansia.
Isomer trans asam linoleat yang paling banyak terdapat pada ruminansia adalah asam vaksenat (vaccenic acid), dan dari asam lemak ini dapat terbentuk conjugated linoleic acid (CLA) yang juga merupakan asam lemak trans.
Menurut beberapa penelitian, tidak ada resiko tinggi timbulnya penyakit jantung koroner akibat konsumsi lemak trans yang berasal dari ruminansia. Bahkan ada penelitian yang membuktikan bahwa CLA sangat baik untuk pengelolaan berat badan karena kemampuannya untuk mereduksi lemak tubuh dan pada saat yang sama meningkatkan pembentukan massa otot. Untuk yang sedang menjalankan diet, CLA juga membantu memberikan rasa kenyang dan mengendalikan rasa lapar. Anda dapat memperoleh manfaat CLA dengan kualitas tertinggi dari produk Synergy Maksimum Protein
Asam lemak trans industrial dibentuk dengan cara hidrogenasi minyak nabati, untuk mengurangi jumlah asam lemak tidak jenuhnya supaya tidak mudah tengik; atau mengubah minyak nabati yang cair menjadi lemak semi padat untuk pembuatan margarin.
Selama proses hidrogenasi terdapat asam lemak tidak jenuh yang tidak berubah menjadi asam lemak jenuh, melainkan konfigurasinya berubah dari cis menjadi trans. Contohnya asam lemak linoleat konfigurasi cis akan berubah menjadi asam elaidat (konfigurasi trans)
Minyak nabati yang telah mengalami hidrogenasi parsial menguntungkan industri pangan, karena umur simpan lebih lama, stabil jika dipakai untuk minyak goreng, dan karena sifatnya yang semi padat dapat meningkatkan palatibilitas pangan.
Bahan makanan yang banyak mengandung asam lemak trans: deep-fried fast food, produk bakery, crackers, keripik, margarin.
Konsumsi asam lemak trans akan meningkatkan aktivitas cholesterylester transfer protein dalam plasma yang merupakan enzim utama untuk transfer kolesterol dari HDL ke LDL dan VLDL. Meningkatnya kadar enzim ini dapat menjelaskan mengapa terjadi penurunan kadar HDL serta meningkatnya kadar LDL dan VLDL dalam darah.

makanan yang banyak mengandung lemak trans

Diperkirakan bahwa:

  • Penggantian 5% kalori yang berasal dari lemak jenuh dengan jumlah kalori yang sama yang berasal dari lemak tidak jenuh dapat menurunkan resiko timbulnya penyakit jantung koroner sebesar 42%
  • Sedangkan penggantian 2% dari kalori yang berasal dari lemak trans industrial dengan lemak tidak jenuh tidak terhidrogenisasi dapat menurunkan resiko timbulnya penyakit jantung koroner sebesar 53%

Penemuan ini menunjukkan bahwa penggantian lemak jenuh dan lemak trans dengan lemak tidak jenuh (tunggal maupun ganda) tidak terhidrogenasi lebih efektif dalam mencegah timbulnya penyakit jantung koroner dibandingkan dengan mengurangi konsumsi lemak secara keseluruhan.
Asam lemak trans ini sangat ‘jahat’, pengaruh negatifnya muncul walau pada tingkat konsumsi yang rendah, yaitu pada tingkat konsumsi 1 – 3% dari total konsumsi kalori atau sekitar 20 – 60 kkal (2 – 7 gram per hari) untuk individu yang mengkonsumsi kalori sebanyak 2000 kkal perhari. Oleh karena itu konsumsi asam lemak trans industrial harus dibatasi sampai kurang dari 0,5% dari total kalori yang dikonsumsi perhari

Dalam artikel selanjutnya saya akan membahas tentang bahan makanan lain yang sangat mempengaruhi kesehatan sistem kardiovaskuler kita. Ikuti terus …. 🙂

Leave a Reply

Required fields are marked *.