Konsultan Program Smart Detox Synergy

Program Smart Detox adalah program diet dengan pasokan nutrisi yang cukup untuk mendetoksifikasi tubuh secara aman dan alami

Antioksidan Yang Berasal Dari Makanan

| 0 comments

makanan sumber antioksidan

Radikal bebas akan menimbulkan efek merusak apabila keseimbangan antara radikal bebas dengan antioksidan di dalam tubuh terganggu. Jadi keseimbangan ini di salah satu sisinya sangat tergantung dari kandungan nutrisi makanan yang dikonsumsi.
Asam-asam amino esensial harus dicukupi kebutuhannya karena diperlukan dalam keperluan sistesis protein: sel, jaringan, hormon, enzim (termasuk enzim-enzim antioksidan yang telah dibahas dalam artikel Antioksidan Biologis.
Nutrisi lain seperti elemen mikro tembaga (Cu), seng (Zn), dan selenium (Se) juga diperlukan misalnya untuk sintesis berbagai kofaktor seperti: glutation tereduksi, antioksidan oligo-elemen (Cu, Zn, dan Se) yang merupakan kofaktor untuk misalnya enzim-enzim: superoksida dismutase SOD, dan glutation peroksidase GPx.
Nutrisi lain yang dibutuhkan adalah vitamin-vitamin yang bersifat antioksidan seperti vitamin A, C, E, dan B2.

Bahan makanan yang mengandung sumber antioksidan dan berzat gizi:

  • Vitamin A dan karotenoid: banyak terdapat pada buah-buahan berwarna kuning-oranye misalnya tomat, umbi wortel, sayuran yang berwarna hijau: bayam
  • Vitamin E: banyak terdapat pada kacang-kacangan, susu dan hasil olahannya, biji-bijian yang banyak mengandung minyak
  • Vitamin C: banyak terdapat pada buah-buahan seperti jeruk, kiwi, sayur-sayuran
  • Vitamin B2 (riboflavin): banyak terdapat pada susu, produk olahan susu, daging, ikan, telur, serelia utuh (whole grain), kacang-kacangan
  • Seng (Zn): terdapat pada bahan pangan hewani seperti daging, udang, ikan, susu dan hasil olahannya
  • Tembaga (Cu): terdapat pada hati, udang, serelia
  • Selenium (Se): terdapat pada serelia, daging, ikan
  • Protein: terdapat dalam daging, telur, susu, ikan

Bahan pangan juga ada yang mengandung senyawa-senyawa yang tidak dikategorikan sebagai zat gizi tapi mempunyai aktivitas antioksidan

  • Biogenik amin
  • Senyawa fenol: tirosol, hidroksitirosol, vanilin, asam vanilat, timol, karpakrol, gingerol, zingeron, dsb
  • Senyawa polifenol: flavonoid, flavon, flavonol, heterosida flavonoat, kalkon auron, biflavonoid, dsb
  • Tanin: asam galat, asam elagat, proatosianidol dsb
  • Komponen tetrapirolik: klorofil, virofeofitin, dsb

Contoh bahan makanan dan kandungan antioksidannya

  • Sayuran, buah-buahan, rempah-rempah, herbal, teh, kakao merupakan bahan pangan yang kaya akan antioksidan
  • Anggur mengandung senyawa polifenol: asam kaftarat, ester asam kafeat dengan asam tartarat, katekin flavan- 3-ol, dan antosianin
  • Keluarga berry seperti blueberry, strawberry, blackberry, dan crowberry banyak mengandung senyawa fenolik seperti asam benzoat, hidroksilasi dan asam sinamat; serta flavonoid termasuk antosianin, pro-antosianin, flavonol, dan katekin
  • Jeruk mengandung polifenol asam hidroksinamat, termasuk p-koumarat dan asam ferulat, limonoid dan naringin. Bahkan dalam kulit dan biji buah jeruk terkandung senyawa yang mempunyai aktivitas antioksidan
  • Tomat, kacang-kacangan, brokoli, bit, jamur, jagung, kubis putih, kale, bunga kol. bayam, bawang putih, bawang merah, dan kedelai adalah contoh makanan yang mengandung antioksidan
  • Kunyit, bangle, jahe, kencur, serai, lengkuas, dan lain-lain merupakan contoh herbal rimpang-rimpangan yang mengandung antioksidan
  • Teh banyak mengandung flavonoid, termasuk katekin, epikatekin, kuersetin, epigalokatekin, epikatekin galat, epigalokatekin galat. Katekin dan kuersetin dapat menghambat oksidasi terhadap kolesterol LDL serta menjaga sel-sel limfoid terhadap efek sitotoksik dari LDL teroksidasi. Katekin, juga antioksidan lain seperti vitamin A (α-tokoferol) dan β-karoten dapat memperlambat oksidasi terhadap plasma darah. Minum teh dapat menghambat ekspresi ‘oncogene’ dalam paru-paru. Ekstrak polifenol dari teh dapat menstimulir ekspresi enzim detoksifikasi dalam kultur sel hepatoma (sel kanker hati)
  • Anggur merah (wine) banyak mengandung senyawa fenolik seperti p-koumarat, sinnamat, kaffeat, ferulat, asam vanilat dapat menghambat oksidasi terhadap kolesterol LDL. Ada fenomena yang dikenal dengan nama French paradox, di beberapa tempat di Perancis, angka kematian akibat penyakit jantung koroner sangat rendah, padahal konsumsi asam lemah jenuh termasuk tinggi dan kadar kolesterol dalam plasma darah juga tinggi. Ternyata tingginya konsumsi anggur merah ditemukan berkorelasi dengan ‘French paradox’ tersebut.

Banyak bukti yang mendukung fakta bahwa ada efek protektif dari mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan dalam jumlah banyak terhadap resiko timbulnya penyakit kanker dan penyakit degeneratif lainnya. Konsumsi sayuran dan buah-buahan dalam jumlah tinggi telah terbukti dapat mencegah timbulnya penyakit osteoporosis dengan cara menjaga densitas tulang cukup baik, menurunkan resiko timbulnya penyakit kardiovaskuler, serta mencegah kanker prostat dan kanker paru-paru.
Agar dapat dikonsumsi dalam jumlah banyak dan dalam keadaan segar (supaya nutrisinya tidak hilang akibat proses pemasakan) sayuran dan buah-buahan dapat di jus. Banyak resep-resep jus yang bermanfaat untuk mencegah atau menyembuhkan/memperbaiki kondisi penyakit tertentu.

Bioavailabilitas (ketersediaan hayati) makanan

Ketersediaan hayati adalah persentase zat yang dapat diserap oleh usus dari jumlah yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsi. Bagian tersebut adalah bagian yang dapat digunakan oleh tubuh dalam proses metabolisme. Ketersediaan hayati antioksidan, baik zat gizi maupun zat non-gizi dipengaruhi oleh bermacam faktor seperti: jenis antioksidan, isomer geometrik molekulnya, cara pengolahan makanan, serta matriks yang mengelilingi zat aktif antioksidan itu (zat lain, termasuk karbohidrat, lemak, protein, mineral).

Berikut ini akan dibahas beberapa contoh tentang bioavailabilitas beberapa senyawa antioksidan

Vitamin E

Tokoferol dan tokotrienol (vitamin E) dalam darah dan jaringan manusia terdapat dalam bentuk bebas (tidak teresterifikasi). Esterifikasi tokoferol akan membuat tokoferol lebih tahan terhadap bahan/penyebab oksidasi seperti udara, cahaya, dan ion-ion logam. Bentuk vitamin E ini yang banyak digunakan dalam suplemen atau untuk fortifikasi pangan (seperti dalam minyak goreng). Ester tokoferol dalam makanan dan suplemen yang dikonsumsi akan dihidrolisis oleh lipase dalam usus dan kemudian tokoferol diserap oleh usus setelah dalam bentuk bebas, dan ditransportasikan ke hati bersama lipoprotein kilomikron dalam aliran darah.
Meskipun α-tokoferol dan β-tokoferol dapat diserap oleh usus, tapi hati lebih mudah mensekresikan α-tokoferol ke dalam darah dan digabung dengan lipoprotein. Dalam proses ini ada suatu protein (tocopherol-binding protein) yang memegang peranan. Meski tokotrienol mempunyai aktivitas menangkal radikal bebas lebih besar dibanding tokoferol, namun tokotrienol kurang dapat diserap oleh usus.

Vitamin C (asam askorbat dan asam dehidro-askorbat)

Asam askorbat dalam bahan makanan sebagian besar (80 – 90%) terdapat dalam bentuk tereduksi, dan diserap dalam usus halus menggunakan sistem transpor aktif yang tergantung pada unsur Natrium (Na). Diperkirakan asam askorbat diserap lebih baik dibandingkan dengan asam dehidro-askorbat

Karotenoid

Pengolahan bahan makanan dapat mempengaruhi bioavailabilitas antioksidan yang terkandung di dalamnya. Sebagai contoh, penyerapan likopen dari buah tomat segar dan β-karoten dari wortel segar secara ternyata lebih rendah dibandingkan dengan jus tomat atau wortel yang telah dimasak. Pengolahan dengan panas akan memecah ikatan kompleks antara protein dan karotenoid dan mengubah bentuk cis- menjadi trans-β-karoten yang lebih mudah diserap usus. Jika bentuk cis- dan trans-β-karoten dua-duanya terdapat dalam makanan yang dikonsumsi, ternyata konsentrasi trans-β-karoten dalam darah dan jaringan lebih tinggi dibanding cis-β-karoten.
Umumnya likopen yang terdapat dalam makanan (sekitar 95%) berada dalam konfigurasi all-trans. Akan tetapi ternyata bahwa sekitar 50% dari likopen total dalam darah dan sekitar 80% dalam jaringan prostat berada dalam bentuk isomer cis-. Diduga bahwa likopen dalam bentuk isomer cis- lebih mudah diserap usus karena lebih mudah larut dalam cairan empedu. Mengenai bagaimana mekanisme terjadinya perubahan isomer all-trans menjadi isomer cis- di dalam tubuh, belum sepenuhnya dipahami.

Isoflavon

Isoflavon terdapat dalam kacang kedelai dalam bentuk β-glikosida; akan tetapi yang ditemukan dalam darah dan urin manusia adalah bentuk aglikon. Hidrolisis isoflavon di dalam usus besar dilakukan oleh enzim glukosidase yang diproduksi oleh mikroba usus besar. Bentuk aglikon dari isoflavon lebih mudah diserap oleh usus dibandingkan dengan bentuk glikosida.

Dalam artikel-artikel selanjutnya saya akan membahas secara mendetail mengenai manfaat kesehatan untuk masing-masing zat antioksidan ini. Terus ikuti artikelnya …

Leave a Reply

Required fields are marked *.